Leadership9 menit

Abu Vulkanik dan Ujian Kepemimpinan: Cara Menilai Apakah Seseorang Sudah Siap Menjadi Leader

Ketika abu Anak Krakatau menyelimuti Lampung, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal mengambil keputusan besar dalam waktu singkat. Di balik surat edaran itu tersimpan pelajaran penting soal psikologi kepemimpinan: bagaimana menilai apakah seseorang siap memimpin, dan apa yang membuat seorang leader layak dipercaya saat tekanan datang.

PersonixSep 11, 2026
Abu Vulkanik dan Ujian Kepemimpinan: Cara Menilai Apakah Seseorang Sudah Siap Menjadi Leader

Ketika Langit Berdebu, Siapa yang Pertama Bergerak?

Bayangkan sebuah provinsi terbangun dengan langit yang kelabu. Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar ke sejumlah wilayah di Lampung. Dalam situasi seperti ini, ada dua tipe pemimpin: yang menunggu sampai semuanya jelas, dan yang bergerak lebih dulu demi melindungi orang lain. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memilih jalan kedua. Melalui Surat Edaran Gubernur Lampung Nomor 150 Tahun 2026, seluruh satuan pendidikan — dari PAUD hingga SLB — diminta mengalihkan kegiatan belajar mengajar menjadi daring selama dua hari, 7 sampai 8 September 2026.

Yang menarik bukan sekadar keputusannya, melainkan cara ia membingkai keputusan itu. Pengalihan KBM ditegaskan bukan berarti pendidikan berhenti. Kepala sekolah dan guru tetap bekerja dari sekolah, orang tua tetap mendampingi anak belajar dari rumah, dan kebijakan itu dinyatakan akan terus dievaluasi mengikuti pemantauan instansi teknis. Dalam bahasa psikologi kepemimpinan, ini bukan sekadar instruksi administratif. Ini adalah pernyataan karakter: pemimpin yang mengambil tanggung jawab, tapi tidak mengambil alih tanggung jawab orang lain.

Keputusan Cepat Bukan Keputusan Panik

Ada mitos yang berkembang di banyak ruang kerja: pemimpin yang baik adalah yang paling cepat mengambil keputusan. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Keputusan besar selalu mengandung tiga hal: informasi yang belum lengkap, waktu yang terbatas, dan konsekuensi yang menyentuh banyak orang. Gubernur Lampung mengambil keputusan hanya dalam hitungan hari, bahkan jam, setelah data sebaran abu tersedia. Ia tidak menunggu situasi menjadi sempurna untuk bertindak, tetapi juga tidak bergerak tanpa dasar.

Inilah yang membedakan pemimpin matang dari pemimpin yang hanya punya jabatan. Ia bersedia menanggung risiko keputusan yang 'kurang populer' demi keselamatan bersama, sekaligus menyediakan pintu keluar lewat evaluasi harian. Dalam dunia psikologi, tendensi seperti ini disebut sebagai combination of decisiveness and openness — tegas dalam mengambil langkah, lentur dalam menerima informasi baru. Seorang pemimpin yang hanya tegas tanpa keterbukaan akan menjadi kaku. Seorang pemimpin yang hanya terbuka tanpa ketegasan akan menjadi ragu-ragu. Kesiapan memimpin lahir dari keseimbangan keduanya.

Yang Sering Salah: Pemimpin yang Bereaksi pada Suara, Bukan pada Data

Ada pola yang kerap muncul di banyak organisasi. Saat krisis datang, pemimpin pertama-tama menenangkan orang banyak, tetapi lupa menenangkan proses. Alih-alih menetapkan mekanisme dan peran, ia sibuk mencari siapa yang bisa disalahkan, atau sebaliknya, terlalu cepat mengumumkan sesuatu demi terlihat sigap. Yang pertama menciptakan ketakutan, yang kedua menciptakan kebingungan. Dua-duanya berakar dari satu hal yang sama: keputusan diambil untuk melindungi citra, bukan untuk melindungi orang.

Dalam surat edaran tersebut, ada satu kalimat yang jarang diperhatikan padahal sangat penting: 'Kepala satuan pendidikan dan guru tetap melaksanakan tugas dari sekolah.' Ini bukan detail teknis. Ini adalah sinyal bahwa pemimpin memahami bahwa kepemimpinan bukan soal tampil paling depan, melainkan soal memastikan setiap bagian dari sistem tetap berfungsi. Ketika seseorang belum mampu memisahkan antara 'saya harus terlihat memimpin' dan 'sistem harus tetap berjalan', itu tanda kesiapan leadership-nya belum matang.

Gesture Seorang Pemimpin Terlihat dari Bahasanya

Perhatikan bagaimana kebijakan itu disampaikan. Tidak ada nada menakut-nakuti, tidak ada nada menggurui. Yang ada adalah imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, memakai masker bila harus keluar, menjaga kebersihan lingkungan, dan — ini yang menarik — tidak mengambil tindakan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi. Kalimat terakhir itu adalah bentuk kepemimpinan yang dewasa. Ia bukan hanya mengatur apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengelola cara berpikir masyarakat.

Sikap seperti ini kerap disebut sebagai calming authority. Pemimpin yang tenang cenderung melahirkan tim yang tenang. Pemimpin yang panik melahirkan tim yang saling menyalahkan. Gesture dalam pengambilan keputusan tidak selalu soal gerakan besar; sering kali terlihat dari pilihan kata, siapa yang dilibatkan, dan siapa yang sengaja dilindungi dari tekanan. Pemimpin yang siap selalu sadar bahwa kata-katanya adalah keputusan, meskipun ia tidak sedang mengeluarkan kebijakan apa pun.

Kalau 'Abu Vulkanik' Itu Terjadi di Perusahaan Anda

Setiap bisnis pasti pernah mengalami versi kecil dari krisis seperti ini. Klien utama tiba-tiba mundur. Sistem payroll gagal saat akhir bulan. Tim kehilangan sosok kunci dalam satu malam. Dalam semua situasi tersebut, pertanyaannya sama: siapa yang akan memutuskan, atas dasar apa, dan siapa yang akan menanggung konsekuensinya. Perusahaan yang tidak pernah menyiapkan jawabannya biasanya akan kalah bukan karena kurang modal, tapi karena kurang kesiapan karakter di level kepemimpinan.

Perhatikan struktur keputusan dalam berita tersebut. Pertama, ada pemetaan risiko. Kedua, ada penetapan peran yang jelas. Ketiga, ada jangka waktu yang terukur. Keempat, ada komitmen untuk evaluasi ulang. Empat elemen ini adalah kerangka kerja yang bisa langsung diadaptasi oleh perusahaan dalam kondisi apa pun. Seorang leader yang mampu memproduksi kerangka ini dalam waktu singkat adalah aset yang tidak bisa dinilai hanya dari rapor atau pengalaman kerja.

Tiga Sinyal Kesiapan Leadership yang Tersembunyi di Balik Keputusan

Pertama, kemampuan menimbang antara risiko dan keberlangsungan. Dalam berita itu, keselamatan siswa menjadi prioritas tanpa menghentikan proses belajar. Pemimpin yang siap selalu berhasil menemukan titik tengah antara 'harus aman' dan 'harus terus jalan'. Kedua, kemampuan memberi kejelasan peran. Siapa bertanggung jawab di sekolah, siapa mendampingi di rumah, siapa memantau di lapangan — semuanya diatur. Ketiga, kejelasan garis waktu dan akuntabilitas. Kebijakan yang tidak punya tanggal evaluasi adalah kebijakan yang menggantung.

Ketika tiga sinyal ini muncul pada seseorang, ia biasanya lebih cocok mengelola orang dalam kondisi sulit, bukan hanya mengelola pekerjaan dalam kondisi normal. Dan justru di sinilah banyak organisasi masih menebak-nebak. Wawancara kerja sering kali hanya mampu mengukur kemampuan berbicara, bukan kecenderungan perilaku yang sesungguhnya di bawah tekanan. Padahal, apa yang dilakukan seseorang saat tenang sering kali berbeda jauh dari apa yang ia lakukan saat terdesak.

Source: https://nasional.tempo.co/read/2119069/gubernur-lampung-alihkan-kbm-ke-daring-akibat-sebaran-abu-anak-krakatau