Leadership5 min read

Strategic Decision Making: Mengapa Direksi Membutuhkan Proses, Data, dan Leadership Readiness

Keputusan strategis tidak selalu menghasilkan outcome sesuai rencana. Pelajari mengapa direksi membutuhkan proses pengambilan keputusan, risk awareness, dan leadership readiness yang kuat.

PersonixSep 17, 2026
Strategic Decision Making: Mengapa Direksi Membutuhkan Proses, Data, dan Leadership Readiness

Direksi dibayar untuk membuat keputusan.

Masalahnya, keputusan bisnis hampir tidak pernah dibuat dengan informasi yang sempurna.

Harga dapat berubah. Teknologi berkembang. Kompetitor bergerak. Proyeksi dapat meleset.

Dalam opini yang diterbitkan Katadata pada 11 September 2026, Dewi Hanggraeni membahas dilema tersebut dalam konteks direksi BUMN: perusahaan membutuhkan leader yang berani mengambil risiko bisnis, sementara setiap keputusan material juga menghadapi tuntutan governance, compliance, audit, dan pertanggungjawaban. 

Konteks BUMN memiliki karakteristik hukum dan tata kelola tersendiri. Namun bagi perusahaan secara umum, terdapat satu pertanyaan leadership yang relevan:

Bagaimana organisasi memastikan keputusan besar dibuat oleh orang yang tepat melalui proses yang dapat dipertanggungjawabkan?


Outcome Buruk Belum Tentu Berarti Proses Keputusannya Buruk

Dalam bisnis, keputusan yang masuk akal hari ini dapat menghasilkan outcome yang buruk beberapa tahun kemudian. Sebaliknya, keputusan dengan proses yang lemah terkadang menghasilkan keuntungan karena kondisi eksternal menguntungkan.

Opini Katadata tersebut menekankan bahwa evaluasi keputusan seharusnya tidak berhenti pada hasil. Dalam pembahasan Business Judgment Rule, penulis menyoroti pentingnya process, evidence, dan defensibility, termasuk informasi yang tersedia, pengujian risiko dan alternatif, serta benturan kepentingan. 

Artinya, kualitas keputusan tidak hanya ditentukan oleh apa hasil akhirnya, tetapi juga bagaimana keputusan tersebut dibuat.


Direksi Membutuhkan Decision Architecture

Keputusan strategis tidak ideal jika hanya mengandalkan intuisi satu orang.

Perusahaan membutuhkan sistem yang memastikan tujuan, informasi, risiko, authority, dan accountability menjadi bagian dari proses keputusan.

Dalam opini Katadata, governance dijelaskan sebagai penentu decision rights dan accountability, sementara risk management menyediakan informasi mengenai ketidakpastian dan compliance menjaga keputusan dalam koridor yang berlaku. 

Ini sejalan dengan konsep decision architecture.

Pertanyaan pentingnya bukan hanya:

“Siapa yang berhak memutuskan?”

Tetapi juga:

“Data apa yang tersedia, risiko apa yang telah diuji, dan bagaimana keputusan tersebut akan dimonitor?”


Leader Terlalu Takut Mengambil Risiko Juga Menjadi Masalah

Governance yang baik bukan berarti semua keputusan harus menjadi konservatif.

Jika setiap kemungkinan kegagalan membuat executive memilih keputusan paling aman untuk dirinya sendiri, perusahaan dapat mengalami executive risk aversion.

Opini Katadata memperingatkan risiko tersebut: ketika business loss selalu diasosiasikan dengan exposure pribadi, direksi berpotensi bergeser dari mencari keputusan terbaik untuk perusahaan menuju keputusan paling aman bagi dirinya. 

Bisnis membutuhkan keseimbangan.

Leader harus mampu mengambil risiko, tetapi risikonya harus dipahami, diuji, dan berada dalam guardrail organisasi.


Strategic Decision Making Juga Bergantung pada Kualitas Leader

Framework keputusan dapat dibuat sangat baik. Namun pada akhirnya manusia tetap harus menggunakannya. Dua executive yang menerima data sama dapat menghasilkan keputusan berbeda karena cara berpikir, risk tolerance, karakter, pengalaman, dan judgement yang berbeda.

Karena itu, posisi executive memiliki risiko talent yang tinggi.

Seseorang dapat sangat kuat secara functional tetapi belum tentu memiliki strategic judgement yang cukup untuk posisi director. Sebaliknya, ada leader yang berani mengambil keputusan tetapi membutuhkan peningkatan dalam risk awareness atau people management.

Inilah mengapa keputusan mengenai siapa yang duduk di posisi executive sama pentingnya dengan framework keputusan itu sendiri.

Executive Assessment Membantu Melihat Decision Pattern

Assessment untuk level executive seharusnya tidak berhenti pada personality profile. Yang lebih penting adalah menghubungkan profil individu dengan tuntutan posisi strategis.

Personix Executive Talent Fit dirancang untuk memetakan strategic competencies dan executive success factors melalui kombinasi assessment seperti Character Quotient, Cognitive Aptitude, Personal Value, 720 Leadership, Emotional Intelligence, Coping Stress, interview, Problem Analysis, hingga LGD sesuai kebutuhan. 

Outputnya dapat digunakan untuk melihat leadership strength, executive competency gaps, decision pattern, succession pipeline, dan strategic risk area. 

Data tersebut bukan pengganti judgement board.

Fungsinya adalah memberikan evidence tambahan sebelum people decision strategis dibuat.

Board Membutuhkan Challenge, Bukan Sekadar Approval

Strategic decision making juga membutuhkan orang yang bersedia menguji asumsi.

Opini Katadata menyoroti konsep quality of challenge di level board: apakah asumsi optimistis diuji, downside scenario dipertanyakan, dan bias management dikenali sebelum keputusan besar dilakukan. 

Prinsip yang sama berlaku dalam leadership team.

Tim executive yang seluruh anggotanya selalu setuju belum tentu sehat.

Organisasi membutuhkan kemampuan untuk berbeda pendapat secara konstruktif tanpa berubah menjadi konflik personal. Karena itu, komposisi leadership team dan karakter orang yang duduk di dalamnya turut memengaruhi kualitas keputusan.


Keputusan Besar Membutuhkan Orang dan Proses yang Tepat

Tidak ada assessment yang dapat menjamin semua keputusan executive akan menghasilkan outcome positif.

Tidak ada governance framework yang mampu menghilangkan seluruh ketidakpastian bisnis.

Namun perusahaan dapat meningkatkan kualitas proses dengan memastikan dua hal.

Pertama, decision architecture harus jelas: siapa memiliki authority, informasi apa yang dibutuhkan, risiko apa yang diuji, dan bagaimana accountability dijalankan.

Kedua, organisasi perlu memastikan orang yang mendapat authority memiliki leadership capability dan fit yang sesuai dengan tanggung jawabnya.

Personix menggunakan pendekatan Executive Talent Fit untuk membantu decision maker melihat person, role, risk, dan development direction dalam satu kerangka people decision. 

Karena keputusan bisnis tidak hanya ditentukan oleh strategi. Keputusan juga ditentukan oleh kualitas orang yang diberi kewenangan menjalankannya.

Seberapa Siap Executive Anda Mengambil Keputusan Strategis?

Petakan leadership strength, strategic competency, decision pattern, role fit, dan area risiko executive melalui Personix Executive Talent Fit.

Konsultasikan Executive Assessment

Source: KATA DATA, 2026