56% Salah Posisi: Pelajaran dari BlueBand Indonesia tentang Pentingnya Job Fit
Apa yang terjadi jika lebih dari separuh tim berada di posisi yang kurang tepat? Studi kasus BlueBand Indonesia menunjukkan bagaimana job fit dan assessment dapat memengaruhi performa bisnis.

Tidak semua masalah performa disebabkan oleh kualitas orang. Ada karyawan yang kompeten tetapi sulit berkembang. Ada individu yang pintar tetapi terus kesulitan mencapai target. Ada pula tim yang berisi orang-orang berpengalaman tetapi hasilnya tetap tidak stabil. Dalam situasi seperti ini, perusahaan biasanya mencoba memberikan training, coaching, mengubah KPI, atau bahkan mengganti orang. Padahal ada satu pertanyaan yang sering terlewat: Apakah orang tersebut sebenarnya berada pada posisi yang tepat? Salah penempatan atau job mismatch dapat membuat orang yang sebenarnya kompeten terlihat seperti low performer. Jika kondisi tersebut terjadi pada banyak posisi sekaligus, dampaknya tidak lagi menjadi persoalan individu. Ia dapat berkembang menjadi risiko organisasi.
Ketika Orang yang Tepat Berada di Posisi yang Salah
Bayangkan sebuah organisasi memiliki orang dengan kekuatan analitis yang tinggi, individu yang sangat kreatif, orang dengan kemampuan persuasi kuat, dan karyawan yang unggul dalam detail serta support. Semuanya merupakan talent yang bernilai. Namun hasilnya dapat berbeda ketika mereka berada pada pekerjaan yang tidak sesuai. Orang dengan kemampuan analitis mungkin kesulitan ketika ditempatkan pada posisi yang sangat mengandalkan networking. Individu kreatif dapat kehilangan energinya apabila seluruh pekerjaannya sangat prosedural. Sebaliknya, seseorang dengan kemampuan interpersonal tinggi mungkin tidak berkembang apabila hampir seluruh aktivitas kerjanya dilakukan secara individual. Masalahnya bukan selalu orangnya. Masalahnya bisa berada pada fit antara orang dan posisi.
Studi Kasus BlueBand: Ketika 56% Personel Kurang Tepat Posisi
Studi kasus Flora (BlueBand) Indonesia memberikan gambaran konkret mengenai pentingnya job fit. Pada 2024, perusahaan menghadapi tekanan performa dengan sales turun sekitar 14%. Target perusahaan belum tercapai, tim menghadapi tekanan, dan hasil yang diperoleh belum stabil. Personix kemudian digunakan untuk membantu memetakan sekitar 110 personel. Dari proses tersebut ditemukan bahwa sekitar 56% personel berada pada posisi yang belum optimal atau kurang sesuai. Angka tersebut penting karena mengubah cara perusahaan melihat persoalan. Pertanyaannya tidak lagi hanya: “Mengapa orang-orang kita tidak perform?” Tetapi menjadi: “Apakah orang-orang kita sudah ditempatkan berdasarkan kekuatan dan potensinya?”
Mengapa Salah Penempatan Karyawan Sulit Terdeteksi?
Job mismatch tidak selalu terlihat secara langsung. Seorang karyawan tetap dapat menyelesaikan pekerjaannya. Target mungkin masih tercapai, meskipun membutuhkan usaha yang jauh lebih besar. Dari luar, individu tersebut dapat terlihat baik-baik saja. Padahal terdapat perbedaan antara mampu melakukan pekerjaan dan berada pada pekerjaan yang memungkinkan seseorang memberikan performa terbaik. Karyawan yang memiliki job fit baik cenderung menggunakan kekuatan utamanya secara lebih natural. Sebaliknya, individu yang terus bekerja pada posisi yang kurang sesuai berpotensi mengalami penurunan engagement, produktivitas, hingga motivasi. Karena itu, salah penempatan sering baru terlihat setelah masalah performa menjadi cukup besar.
Bagaimana Assessment Membantu Menentukan Job Fit?
Assessment memberikan perusahaan data tambahan untuk melihat hubungan antara profil seseorang dengan tuntutan pekerjaan. Pertama, assessment membantu melihat potensi. Potensi menunjukkan kapasitas yang mungkin belum sepenuhnya terlihat dari pekerjaan seseorang saat ini. Kedua, assessment membantu mengidentifikasi kekuatan utama. Dua karyawan dengan jabatan yang sama belum tentu memiliki kekuatan yang sama. Satu mungkin unggul dalam komunikasi, sementara yang lain unggul dalam analisis dan struktur. Ketiga, assessment membantu melihat kecocokan posisi. Perusahaan dapat membandingkan profil individu dengan kebutuhan pekerjaan sehingga mismatch dapat terlihat lebih awal. Keempat, hasil assessment dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi. Apakah seseorang sebaiknya tetap pada posisi sekarang? Apakah perlu rotasi? Apakah siap dipromosikan? Atau justru membutuhkan pengembangan tertentu terlebih dahulu?
Analis, Kreatif, Sales, atau Support: Setiap Orang Punya Tempat Terbaik
Salah satu prinsip penting dalam people placement adalah bahwa tidak ada satu tipe orang yang terbaik untuk seluruh pekerjaan. Posisi yang berbeda membutuhkan kekuatan yang berbeda. Individu dengan kekuatan analitis dapat berkembang pada pekerjaan yang membutuhkan data, evaluasi, dan problem solving. Orang dengan kreativitas tinggi membutuhkan ruang untuk menghasilkan ide dan mengeksplorasi pendekatan baru. Individu dengan kemampuan komunikasi dan persuasi yang kuat dapat lebih optimal pada fungsi sales atau stakeholder management. Sementara orang yang detail, konsisten, dan service-oriented dapat menjadi sangat kuat dalam fungsi support. Persoalannya bukan mencari tipe yang paling unggul. Persoalannya adalah menentukan: Apakah kekuatan orang tersebut sedang digunakan di tempat yang tepat?
Dampak Salah Posisi Tidak Berhenti pada Satu Karyawan
Salah penempatan sering dianggap sebagai persoalan individu. Padahal pada posisi tertentu, dampaknya dapat menyebar ke seluruh organisasi. Bayangkan seorang manager berada pada posisi yang tidak sesuai dengan kapasitasnya. Keputusan tim dapat menjadi lambat. Anggota tim kurang mendapatkan arahan. Prioritas menjadi tidak jelas. Target terlambat, lalu fungsi lain yang bergantung pada tim tersebut ikut terdampak. Ketika job mismatch terjadi pada banyak posisi secara bersamaan, persoalan tersebut dapat mengganggu kemampuan perusahaan dalam mengeksekusi strategi. Itulah mengapa prinsip right man in the right place bukan sekadar slogan HR. Penempatan orang merupakan bagian dari business execution.
Dari Minus 14% Menjadi Plus 4%
Setelah proses pemetaan dan penyesuaian people placement dilakukan dalam studi kasus Flora (BlueBand) Indonesia, performa perusahaan menunjukkan perubahan. Pada 2025, sales yang sebelumnya berada pada sekitar minus 14% berubah menjadi pertumbuhan positif sekitar 4%. Perusahaan juga berhasil mencapai posisi #1 Global berdasarkan studi kasus tersebut. Tentunya performa bisnis merupakan hasil dari banyak variabel. Strategi, market, produk, leadership, dan kualitas eksekusi semuanya memiliki kontribusi. Namun studi kasus tersebut menunjukkan bahwa people placement bukan persoalan administratif semata. Ketika organisasi memiliki orang yang lebih sesuai dengan tuntutan setiap posisi, kemampuan tim dalam mengeksekusi strategi juga dapat menjadi lebih kuat.
Training Tidak Selalu Menjadi Jawaban Pertama
Ketika seseorang tidak perform, perusahaan sering langsung memberikan training. Namun sebelum menentukan intervensi, penting untuk mengetahui akar masalahnya terlebih dahulu. Jika masalahnya adalah competency gap, training memang dapat menjadi solusi. Jika masalahnya berkaitan dengan leadership capability, coaching atau mentoring dapat membantu. Namun jika akar persoalannya adalah job mismatch, menambah training belum tentu menyelesaikan masalah. Perusahaan justru dapat menghabiskan biaya untuk membuat seseorang semakin mampu menjalankan pekerjaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kekuatan utamanya. Assessment membantu perusahaan melakukan diagnosis lebih dahulu sebelum menentukan tindakan.
Assessment Bukan Hanya untuk Recruitment
Assessment sering diasosiasikan dengan proses recruitment. Padahal penggunaannya jauh lebih luas. Dalam recruitment, assessment membantu melihat kesesuaian kandidat. Dalam promotion, assessment membantu menilai readiness dan risiko. Dalam talent mapping, assessment membantu menemukan hidden potential. Dalam succession planning, assessment membantu mengidentifikasi kandidat untuk posisi strategis. Dalam reorganisasi, assessment dapat membantu menentukan siapa yang paling tepat mengisi struktur baru. Karena itu, assessment seharusnya tidak hanya digunakan ketika perusahaan sedang mencari orang baru. Assessment dapat menjadi bagian dari sistem pengambilan keputusan talent secara menyeluruh.
Sebelum Mengganti Orang, Pastikan Posisisinya Sudah Tepat
Ketika seseorang tidak memberikan performa sesuai harapan, mudah bagi perusahaan untuk menyimpulkan bahwa orang tersebut tidak cocok. Namun terdapat pertanyaan yang lebih penting: Apakah ia tidak cocok dengan perusahaan, atau hanya belum berada pada posisi yang tepat? Perbedaannya sangat besar. Seseorang yang terlihat tidak berkembang pada satu posisi dapat berubah menjadi high performer ketika mendapatkan peran yang lebih sesuai dengan kekuatannya. Studi kasus BlueBand Indonesia menunjukkan bagaimana pemetaan terhadap 110 personel membuka visibility baru mengenai potensi, kekuatan, dan kecocokan posisi. Personix membantu organisasi menggunakan data untuk menjawab pertanyaan yang sederhana tetapi memiliki dampak bisnis besar: Apakah orang-orang terbaik di perusahaan sudah berada di posisi terbaik mereka? Karena terkadang perusahaan tidak membutuhkan lebih banyak orang. Perusahaan perlu memastikan bahwa orang yang tepat benar-benar berada di tempat yang tepat.